Dunia teknologi berkembang pesat, bahasa pemrograman baru dibuat, framework baru muncul, software baru, AI baru muncul setiap hari. Walaupun begitu, kamu TIDAK HARUS menggunakannya!.
Teknologi baru selalu jadi sorotan—primadona komunitas. Atensi pindah dengan mudah pada anak baru sebagai solusi terbaru, viral dimana-mana, meyakinkan bahwa itu adalah solusi terbaik untuk semua masalah.
Alat baru dibuat untuk memecahkan beberapa masalah spesifik pada solusi yang ada. Menutupi masalah tidak terlihat dibelakangnya.
YAGNI: You Ain’t Gonna Need It.
Alat baru memiliki banyak manfaat dan beri sudut pandang baru pada masalah, tetapi risiko alat/solusi baru akan ditanggung oleh early-adopter, seperti:
- Kurang resource dan dokumentasi, sehingga harus belajar hal baru—memakan waktu riset.
- Bug tidak teridentifikasi dan tidak stabil—eksperimen solusi baru membentuk masalah baru.
- Ekspektasi Base Feature dari solusi yang ada tidak lengkap—tidak melengkapi dengan maksimal pada solusi yang ada.
Sehingga, early-adopter akan membayar mahal untuk eksplorasi, trial-error, pindah-pindah forum agar alat baru berjalan sesuai ekspektasi.
Tanpa menyadari risiko—buruknya manajemen risiko, progres menjadi lebih lambat, terbentur dengan tak terduga, hingga runtuhnya organisasi.
Investasi terlalu besar pada teknologi baru memberikan beban pada ekspektasi balik modal sehingga berusaha mencari-cari peluang masalah.
Fokus pada solusi SEBELUM masalah ditemukan, adalah cara berpikir yang salah.
Alat/solusi baru ditemukan → Cari masalah → Implementasi solusi.
Solution-first, tidak efisien dan memakan waktu. Cara berpikir ini hanya cocok untuk eksperimen karena berisiko memakan biaya tinggi, tidak stabil dan sulit menemukan product-market fit.
Lingkungan eksperimen harus menghasilkan sebuah kesimpulan untuk digunakan pada masa depan, tanpanya eksperimen hanya jadi mainan mengikuti trend.
Pemecahan masalah pada dunia nyata harus berpikir secara Problem-first.
Masalah ditemukan → Cari alat/solusi → Implementasi solusi.
Identifikasi masalah merupakan skill utama dunia saat ini, AI mungkin membantu tetapi hanya manusia dapat melihat masalah yang tidak terlihat dibelakangnya.
Jangan takut iterasi, solusi terbaik tidak ditemukan pada iterasi pertama. Draft pertama pasti buruk. Tidak ada yang sempurna.
Organisasi yang menghindari teknologi baru akan ketinggalan dengan kompetitor yang telah akuisisi dan menggunakan dengan efisien. Keputusan bijaksana dan manajemen risiko dari organisasi dibutuhkan untuk keberlangsungan.
Jangan cari solusi sempurna dari awal, itu hanya memakan waktu. Tetapi identifikasi risiko yang akan terjadi—fun fact: 90% risiko tidak akan terjadi saat itu juga, sehingga kamu akan fokus pada yang benar-benar penting.
Expect the worst to gratitude the best.
Manajemen risiko sama pentingnya dengan membuat solusi itu sendiri.
Memulai dari solusi tercepat —prototype— pada awal identifikasi masalah, dan berprogres pada setiap iterasi. Feedback loop penting untuk menguji solusi dan mencari Product-market fit.
Eksperimen pada berbagai variabel, ganti sedikit demi sedikit, catat setiap perubahan dan hasil untuk memaksimalkan solusi terhadap masalah.
Teknologi baru akan menemukan tempatnya, sampai pada titik itu akan ada alasan yang tepat ia digunakan. Progres dan iterasi membentuk pondasi alasan tersebut. Tidak ada solusi terbaik untuk semua masalah—there is no silver bullet.
Terima kasih telah membaca, sampai jumpa.
