Internet jadi sekumpulan resource yang saling terhubung berkat data yang saling terkoneksi (linked-data). Website manapun dapat terhubung menggunakan URL/HTTP/URI. Contoh paling keren adalah wikipedia, semua halaman pasti ada hubungan ke halaman lainnya.
Tidak cuma link data di bahasa HTML, tetapi bentuk JSON-LD. Video Sporny tentang JSON-LD jelasin lebih detail. Tujuan dari JSON-LD adalah tidak hanya berguna bagi manusia, juga bagi komputer yang suka data terstruktur.
Data yang saling terhubung menjadi ide pembuatan WWW (World Wide Web), berbagai data dengan format masing-masing dapat dikumpulkan menjadi Big Data dan memiliki akses untuk analisa oleh siapapun.
Bayangkan setiap organisasi, orang dan negara menggunakan ide Linked-data, tidak perlu fotocopy KTP untuk verifikasi seseorang dan dapat memudahakan berbagai proses administrasi.
Proses akses data harus dilakukan dengan aman, keterbukaan web akan jadi masalah jika semua orang bisa akses data siapapun dengan bebas.
Sporny juga presentasi tentang credentials on the web yang sekarang kita kenal Single-sign On dan sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Saat ini semua orang tidak perlu mengingat username-password lagi karena sudah terbiasa dengan single-sign on atau metode lain seperti token-email.
Kredensial adalah sertifikat/surat tentang seseorang melakukan sesuatu untuk menjaga kepercayaan.
Bayangkan kamu sedang beli mobil, dan mereka butuh KTP (identitas) yang berisi NIK, nama, jenis kelamin, dan lain-lain. Proses kredensial seperti ini:
- Perusahaan mengirim token kepada kamu melalui browser/aplikasi/email.
- Kamu kirimkan kepada Penyedia Identitas (PI)—server yang menyimpan seluruh identitas negara.
- PI kirim claim data yang dibutuhkan, beserta tenggat waktu—jadi tidak bisa digunakan lebih lama.
- Perusahaan gunakan claim untuk validasi dan verifikasi. Selesai.
Kita mungkin telah menggunakan cara ini secara sadar atau tidak sadar. Aplikasi dan website saat ini memiliki opsi untuk login menggunakan email/password atau menggunakan Google/Apple ID/atau email.
Cara ini sangat mudah dan efektif. Implementasi ide ini di kehidupan nyata dapat memotong Proses administrasi yang panjang dan melelahkan.
Berbagai masalah dipecahkan sekaligus:
- Individu/Perusahaan/Pemerintahan tidak bisa meminta lebih dari yang dibutuhkan, bayangkan jika mereka hanya butuh nama, jenis kelamin dan umur tetapi jika beri KTP fisik saja mereka dapat melihat alamat dan status menikah. Sedangkan metode kredensial hanya memberikan yang dibutuhkan saja.
- Data kadaluarsa, verifikasi harus dilakukan sesingkat mungkin, data claim akan kadaluarsa lebih dari yang dibutuhkan.
- Proses aman (secure) dan punya kendali, perusahaan harus mengirim token dan akan divalidasi oleh PI sekaligus disimpan. Kamu dapat melihat siapa yang pernah meminta kredensial dan bisa mematikan akses mereka. Berbeda dengan fotocopy KTP yang tidak punya kendali setelah dikirim
- Data Autentik, data asli dan benar, tidak ada manipulasi data.
Cara ini bisa dikembangkan lebih jauh, selain hanya simpan data diri (nama, jenis kelamin, tanggal lahir) kita bisa simpan data:
- SIM (Surat Izin Mengemudi), kapan melakukan tes mengemudi, kapan mendapatkan SIM.
- Ijazah, dapat ijazah SD, SMP, SMA hingga Sarjana.
- Sertifikat, sertifikat kompetisi, kemampuan dan lain-lain.
Saat kamu melamar pekerjaan, kamu tidak perlu kirim berkas apapun. HR akan mengirimkan Link/URL lalu secara otomatis pindah ke PI untuk verifikasi dan klik OK, semua data yang dibutuhkan terkirim secara otomatis.
Mari lihat bagaimana negara lain melakukan kredensial dengan baik:
- Estonia, 99% layanan publik berbasis digital
- Singapura, Aplikasi Singpass untuk akses layanan pemerintahan dan swasta.
- Negara-negara Uni Eropa (EU), memiliki EU digital Identity Wallet hingga penerapan Blockchain.
- Denmark, menggunakan MitID untuk efisiensi pemerintahan digital.
Bagian paling berat untuk implementasi data yang saling terhubung dan autentikasi data adalah
- Desain infrastruktur yang berdampak diberbagai area baik horizontal maupun secara vertikal.
- Keamanan data jadi prioritas utama
- Kesenjangan Digital, tidak semua orang terbiasa dengan digital.
- Mengubah cara berpikir dan budaya, memungkinkan tidak semua orang bisa menerima
Maka diperlukan semangat dan ide dari para pemimpin untuk membuat ini jadi nyata. Tapi bagi penggiat teknologi bisa membuat prototype dan implementasi pada organisasi kecilnya untuk membuat perubahan sedikit demi sedikit.
Sekian dari saya, terima kasih.
Add a comment