Apa yang lo lakuin ketika dapat nilai jelek dari sekolah? pasti sembunyiin agar orang tua ga ngeliat. Apa yang lo lakuin kalo ada pencuri? kejar dan hajar dia. Sering kali kita melihat masalah sebagai keburukan yang harus dihilangkan—memang benar, tapi ada yang salah disini.
Minggu lalu gue pergi ke jakarta, dari dalam bus travel ngeliat ada mobil polisi ngasi peringatan ke pengendara yang berhenti di bahu jalan tol karena lagi macet mungkin lagi istirahatkan mesinnya. “Jangan berhenti pak/bu, mohon lanjutkan perjalanan”, speaker polisi teriak sambil berjalan. Hanya sekali lewat.
Heran, kenapa ga berhenti dan ngasi peringatan ke pengendara yang menepi—jalan tol harusnya bukan tempat istirahat. Mungkin saja polisi punya rasa simpati dengan hanya memberikan peringatan karena kondisinya juga sedang macet.
Kalau gue sebagai pengendara mungkin udah kesal, “lah polisi ini ga ngeliat kalo lagi macet apa?, kita berhenti karena udah 3 jam stuck disini”. Tapi disisi lain tugas polisi adalah menertipkan, bagaimanapun tidak ada yang bisa dilakukan disini selain membiarkan situasi tetap seperti itu.
Masalah—mobil berhenti di bahu jalan tol— memang perlu dipecahkan. Tapi, kenapa bisa berhenti? karna sedang macet. Kenapa macet? pertanyaan ini lambat laun akan masuk ke sumber masalahnya.
Kasus lain misalnya jika ada pencuri disebuah desa/kota. Apa yang dilakukan? sangat wajar untuk tangkap dan adili dia, tapi apakah ada terbesit pertanyaan “kenapa ia bisa mencuri? apa motivasinya?”—walaupun ini tugas pengadilan tetapi pemerintah harus melihat ini sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Ide ini muncul dari masalah yang terjadi. Di industri teknologi, Uptime website jadi metrik utama untuk melihat availability. Kita melihat metrik (persentasi website down) sebagai availability atau sebagai guarantee terhadap layanan. Kita tidak menghukum developer karena down, tetapi kita melihat masalah kenapa dan apa sumber masalahnya sehingga bisa diperbaiki dan ditingkatkan.
Paradigm Shifting
Insanity Is Doing the Same Thing Over and Over Again and Expecting Different Results
– Albert EinsteinKegilaan adalah melakukan pekerjaan yang sama terus menerus dan berharap hasil yang berbeda.
Nabilla membaca buku The 7 Habits of Highly Effective People, ia jelaskan kalau perubahan cara pandang (paradigm shifting) dapat mengubah cara berpikir, pemahaman dan keputusan terhadap sesuatu. Gue setuju karena perspektif berpikir dapat secara signifikan mengubah keputusan.
Masalah jika dilihat sebagai keburukan, maka akan berhenti berpikir kenapa masalah itu muncul dan secara tidak sadar berpikir untuk menghilangkannya saja—menghindari masalah dan mengabaikan. Mungkin kata “masalah” itu sendiri sudah berubah menjadi konotasi negatif.
Mungkin bukan peristiwa itu sendiri yang menjadi masalah, tetapi perspektif kita (judgment) yang menjadi masalahnya.
Kita melihat laporan keuangan yang boros membuat kita merasa bersalah karena akibat dari keputusan buruk. Mengubah cara berpikir boros sebagai sinyal maka akan berusaha memahami kenapa boros—mencari sinyal-sinyal lain, mungkin saja karena ada kebutuhan mendesak dan mendadak. Paham kenapa kejadian dapat mengurangi perasaan bersalah dan paham sinyal apa saja yang membuat boros.
Tidak mudah untuk menjawab “kenapa ini terjadi?”, tetapi mengubah cara pandang sudah 50% lebih baik daripada stuck pada cara pandang yang sama.
Problem as a Signal: Masalah sebagai sinyal
Gue ngasi pandangan baru terhadap masalah, yaitu problem as a signal, melihat masalah sebagai sinyal. Sinyal dari masalah bisa muncul karena sinyal-sinyal lainnya sehingga mengubah cara berpikir terhadap masalah
- Mencari penyebab sinyal muncul (causal effect), akar masalah.
- Memahami pola sinyal, memahami kenapa masalah muncul pada frekuensi tertentu.
- Mengurangi frekuensi sinyal muncul, memahami pola sinyal dapat kurangi frekuensi sehingga risiko dapat dikendalikan.
- Membantu pembuatan keputusan, memahami sinyal (risiko) apa yang akan terjadi, dan membuat antisipasi jika terjadi.
Pemahaman terhadap masalah tidak serta-merta memecahkan masalah secara langsung, tetapi belajar tentang masalah itu sendiri sehingga membuat pemecahan masalah dengan beragam solusi.
Singkatnya, masalah bukan sekedar kejadian yang harus dihindari—memang perlu dihindari— tetapi sebagai sinyal untuk memahami kenapa masalah terjadi.
Perspektif ini datang dari statistika, melihat semua data mentah sebagai bahan eksplorasi, memahami pola dan mendapatkan knowledge dari sekumpulan data mentah.
Ekosistem sinyal memberikan judgement yang lebih luas terhadap peristiwa terjadi, tidak melihat masalah yang harus dihindari tetapi sesuatu yang perlu dipelajari. Lingkungan yang belajar dan berkembang membuat kehidupan jadi lebih baik.
Metrik sebagai tujuan: tidak jadi metrik yang bagus
Akan sangat mudah terperangkap ketika menjadikan sinyal ini sebagai metrik terhadap perubahan. Kita dimanjakan oleh dashboard, angka, sebuah nilai tunggal sebagai bahan pertimbangan. Hati-hati, hal ini bisa jadi petaka.
“When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure” — Goodhart’s law
“ketika ukuran menjadi target, itu tidak lagi jadi ukuran yang baik”
Bayangkan jika terapkan metrik “tidak boleh ada siswa nilai jelek agar wajah sekolah tetap bagus” karena dapat sinyal nilai jelek menyebabkan wajah sekolah jadi buruk. Maka manipulasi nilai tidak dapat dihindari, akhirnya mengabaikan hal yang benar krusial. Ketika metrik dijadikan tujuan, maka akan mudah untuk dieksploitasi
AI juga eksploitasi metrik, kita memberikan tujuan yang jelas, tidak jarang AI mengabaikan intensi yang sebenarnya dan sering menghindari masalah agar tujuan tetap tercapai.
Ada berbagai cara untuk membuat matrik yang efektif, misalnya:
- Pairing Matrics, selain mengukur kuantitas juga mengukur kualitas
- Fokus outcome (hasil dampak nyata), bukan output.
- Balanced Scorecard, metode evauasi performa dari berbagai sudut pandang.
- Rotate Metrics, mengubah metrik secara berkala
Mengubah sudut pandang ini kadang memang menguras waktu dan tenaga karena memerlukan analisa mendalam, memahami lingkungan internal dan eksternal, dan tidak jarang membuat keputusan yang radikal.
Filsafat Masalah
Pada akhirnya, dalam filsafat masalah tidak dilihat sebagai gangguan yang harus dihindari tetapi bagian fundamental dari eksistensi dan motor penggerak berpikir. Stoikisme misalnya melihat masalah eksternal adalah hal netral yang berada di luar kendali kita. Sedangkan yang menjadi masalah sebenarnya adalah penilaian (judgment) kita terhadapnya. Bagaimana melihat (perspektif) melalui paradigma berpikir dapat mengubah keputusan dan cara pandang sehingga peristiwa apapun itu dapat dihadapi dengan efektif.
Pemerintah perlu berhenti melihat masalah sebagai sesuatu yang buruk tetapi merupakan sinyal dari akibat sinyal-sinyal lainnya yang membutuhkan perhatian penuh. Tidak ada yang bilang ini pekerjaan yang mudah, tetapi memulai dari mengubah cara berpikir dapat sedikit membantu menemukan solusi dari tempat tidak terduga.
Sekian dari saya, terima kasih.
Add a comment