Sosial Media, algoritma, filter bubble: Memahami dan meninggalkan sosial media.

Internet saat ini sudah berbeda dengan internet zaman dulu, kita berselancar di berbagai website tetapi sekarang hanya mengandalkan sosial media dan banyak akun yang sukarela memberikan sepotong, sekeping, dan sedikit informasi untuk menjaga penonton ter-edukasi dan update. Aku akan ulik bagaimana keluar dari jeratan sosial media.

Tidak ada yang salah dari mencari informasi, aku sering mendapatkan informasi baru dari sosial media. Dari teman, akun informatif, bahkan mungkin influenser. Tidak ada salahnya memang, tidak sedikit juga bermanfaat, menarik dan lucu.

Tapi, jika dilihat dari durasi penggunaan sosial media, dari 100 konten yang dilihat, kemungkinan yang bermanfaat hanya 1-2 konten saja, atau 90 konten itu adalah konten baru dan ramai dibicarakan—sedang trending saat ini.

Kita seolah mendapatkan informasi baru, tetapi kita diarahkan oleh algoritma rekomendasi konten sesuai dengan aktifitas kita dan jaringan pertemanan. Tanpa kontrol terhadap informasi, ini bisa jadi masalah!

Cara kerja algoritma sederhanannya melihat kebiasaan seseorang di internet melalui klik website, produk yang dilihat, konten yang disukai, konten yang dilihat, durasi menonton, kebiasaan lingkungan dan lingkungan teman. Semua vektor ini menjadi pertimbangan konten apa yang akan disarankan.

Algoritma hanya memberikan konten yang ingin kita dengar dan lihat. Kita terbiasa dan suka dengan argumen sependapat. Saat kita melihat orang lain melakukan hal yang sama atau mengatakan yang sama—kita merasa sudah di lingkungan yang ideal. Ini buruk!

Algoritma tidak peduli dengan perasaan manusia. Manusia berinteraksi lebih banyak pada konten negatif dari pada positif. Algoritma tidak peduli karena itu membuat kita lebih lama di dalam aplikasi. Semakin lama terpapar konten negatif, dampak psikologi seperti depresi tidak terhindarkan.

AI semakin membuat keruh sosial media, siapapun bisa membuat konten AI—artikel, foto dan video yang menarik. Sosial media kebanjiran konten tidak benar-benar bermanfaat. Tidak ada lagi yang bermanfaat. Bagai api disiram bensin.

Memahami dunia harus melihat dari berbagai sisi. Sayangnya, algoritma memaksa kita melihat satu sisi dan setiap hari semakin ekstrim. Kita menjadi terisolasi ke sebuah kelompok, pendapat bersebrangan akan dikatakan penyerang. Ini lah disebut dengan echo chamber. Lingkungan yang terisolasi disebut filter bubble—algoritma mengfilter konten spesifik untuk user.

Filter bubble adalah kondisi intelektual terisolasi. Ketika kamu mencari sesuatu di internet, sistem rekomendasi akan memberikan saran berdasarkan aktifitas internet sehingga menguatkan kepercayaan manusia tanpa memberikan pendapat yang bersebrangan.

Tidak ada informasi baru apabila hanya mendengar apa yang ingin kita dengar, kita memaksa pendapat sendiri untuk didengar, walaupun dalam lingkungan sendiri itu terlihat nyata dan benar. Tapi, sangat tidak baik untuk kebijaksanaan. Para politis dan elit paling suka kontrol manusia dengan cara ini.

Aku berusaha keluar dari filter bubble ini, akhirnya melihat sosial media sebagai entertaiment saja. Tidak ada cara keluar yang praktis seperti benar-benar meninggalkan dan menghapusnya dari kehidupan, tapi secara mental melihat sosial media sebagai tempat menulis postingan pendek, hiburan, dan tempat kolaborasi. Tidak lebih dari itu.

Lalu bagaimana tetap update? Sudah ada solusi 20 tahun lalu yaitu RSS. Sebuah standard website untuk memberikan daftar konten terkini dalam sebuah url yang akan digunakan oleh program lain untuk mengumpulkan URL artikel.

Aku mengumpulkan berbagai website yang aku sukai dan aku ikuti misalnya website berita terkini hackernews, slashdot, Android police. Selain itu website blog dari brand yang aku gunakan, misalnya blog nodejs, hugo, vuejs, apple. Artikel berita yang dikumpulkan berisi informasi yang komprehensif, sedangkan blog brand digunakan untuk melihat update terbaru mereka.

Cara ini memberikan kebebasan karena sejak awal kita mendefinisikan apa yang akan dilihat dan yang tidak ingin dilihat. Walaupun sosial media memiliki fitur untuk filter konten dari keyword yang dimasukkan, tapi tetap saja banyak yang tidak dapat dikontrol.

Artikel yang bagus kadang memberikan link ke artikel lainnya yang memberikan informasi mendalam—konsep website yang saling terhubung. Bukan meng-kotak-kotak-kan pengguna seperti sosial media lakukan saat ini.

Membaca artikel memberikan pendapat yang bersebrangan, lebih luas dan dapat insight lebih dalam. Walaupun cara ini lambat dan lama, tidak semua orang suka membaca atau menontno konten yang panjang. Tapi akan ada titik dimana konten pendek terasa tidak puas, tidak lengkap, kurang memuaskan hasraf keingintahuan manusia. Secara tidak sadar akan berusaha mencari dan mengumpulkan dengan komprehensif.

“Tapi dunia bergerak dengan cepat, kita harus bergerak dengan cepat pula”, ya benar. Tapi cepat tanpa akurasi malah akan terbawa arus ntah kemana dan diarahkan oleh penggerak dunia yang sebenarnya.

Setelah 1 tahun menggunakan RSS Feed dan terbiasa dengan artikel panjang, mendalam dan beragam. Sosial media hanya menjadi noise dan arah penggunaannya sekedar hiburan.

Kebebasan dan kendali ini dibutuhkan pada masa kini, distraksi datang dari mana saja tanpa disadari. Ambil kembali kendali terhadap informasi dan kembalikan masa-masa berjaya internet.

Subscribe now!