Gue jelasin kenapa lo betah scrolling, fenomena trending dan efek psikologi

Lo pernah ga penasaran kenapa video/konten muncul di feed? semuanya karena algoritma dan matematika. Algoritma memahami lo lewat data-data dan statistika.

Kalo lo suka video kucing #1, besar kemungkinan lo suka video kucing #2.

Kalo temen lo suka video kucing #1, besar kemungkinan lo juga suka.

Kalo temen-dari-temen lo suka video kucing #1, besar kemungkinan lo juga suka.

Did you see the pattern? Algoritma nebak kesukaan lo dan temen-temen lo. Terlepas alasan ‘kenapa’ lo suka, algoritma akan ngasih apapun agar lo tetap stay di aplikasi. Akibatnya algoritma bisa bawa lo se-ekstrem mungkin.

Sebenarnya ga ada yang salah kalo kita dapat yang kita suka. Lo akan dengan betah scroll berjam-jam, karena algoritma ngasih apa yang lo suka. Semakin sering lo scroll, sistem makin paham apa yang lo dan lingkungan lo sukai.

Aplikasi simpen semua interaksi lo untuk algoritma, video yang lo tonton, like/share/subscribe, durasi nonton, detik berapa lo skip. Pake HP apa, negara mana, kota mana, jenis kelamin, lokasi temen-temen lo. SEMUANYA.. kalau bisa DNA lo juga diambil—just kidding.

Semua data itu, pasti ada yang mirip-mirip sama lo. Contohnya gini deh

Ada orang di kota X (jauh dari kota lo) suka video kucing joget-joget, dan lo pernah suka video kucing (tapi ga joget-joget). BESAR KEMUNGKINAN sistem rekomendasi ngasih lo video kucing joget-joget. Bagi sistem ini adalah ‘hal baru’ bagi lo, dan sistem akan happy kalau lo juga suka. Pada akhirnya, sistem akan adaptasi dan makin sering kasih lo video kucing joget-joget. Bagi yang punya video akan melihat ini sebagai “TRENDING”. Tapi bagi sistem telah berhasil ngasih lo mainan baru dan dapat feedback loop dari orang-orang lain.

Kalau lo geek, dalam statistika disebut Lookalike audience untuk cari orang yang ‘kemungkinan suka’ lalu strategi algoritma Exploration untuk ngasih lo jenis konten baru.

Bagi sosial ini sebenarnya bagus, lo ngikutin trending artinya up-to-date. Status sosial lo bertahan dan jadi bahan obrolan di tongkrongan. Sisi positif dari platform besar adalah bikin sosial makin erat dengan metode berbeda. Lo pergi ke negara lain, ketemu orang yang tahu trending yang sama, lo akan mudah deket karena ada bahan obrolan.

Algoritma ini bikin personalisasi setiap user. Lo mungkin merasa unik, tapi sebenarnya lo masuk dalam ‘grup’ yang isinya mirip-mirip kaya lo juga. Sistem bikin lo merasa dihargai, dilihat, dan ga sendiri tapi semuanya virtual, lo ga pernah tau mereka apakah manusia atau bot, lo merasa connected tapi hubungan semu, digital loneliness.

Bagian paling buruk dari sistem ini biasa disebut The Dark Side of Personalization:

  • Jadi ga kritis—A.k.a Echo Chamber—, secara ga sadar kepercayaan lo terhadap sesuatu akan “makin kuat” karena lo merasa temen-temen lo merasa hal yang sama juga. Dalam hidup lo harus bijak dengan lihat pendapat sisi lain juga.
  • Mudah dipengaruhi, lo mungkin sedikit ga suka ke politik XYZ, tapi kebanyakan di sosmed keliatan suka, secara ga sadar lo bisa terpengaruhi. Ga heran kan kenapa banyak buzzer.
  • Radikalisasi Algoritma, lo nonton video tentang diet sehat, algoritma nyaranin diet yang ekstrem yang malah bikin lo ga sehat. Algoritam bikin emosi (marah, takut, syok) jadi lebih tinggi, lo perlu hati-hati deh.
  • Attention Span memendek, lo tahu kan baca konten panjang gini bosen? karena eksploitasi dopamin bikin lo candu scroll.
  • Lo jadi produk!, data lo dijual agar iklan (contoh: makanan kucing) muncul ke orang kaya lo yang suka kucing dan ga muncul ke orang suka anjing.

Sadar ga, ketika lo like video tentang sepatu atau sekilas ada sepatu, muncul iklan sepatu, atau sekedar ‘kepikiran’ doang, muncul video iklan sepatu. Ini semua berkat sistem rekomendasi, sistem lebih tahu diri lo dari pada emak lo sendiri.

Bagi gue sebagai anak IT, selalu suka dengan algoritma, statistika, dan data sains. Satu sisi gue takjub dengan algoritma ini, karena bisa nebak kesukaan manusia dan paham pola ini. Tapi disisi lain dampaknya sangat besar bahkan ngubah perilaku masyarakat.

Gue yakin setelah baca ini, lo akan liat sosial media dan platform gede sebagai sesuatu yang beda.

Gue ga nyaranin lo buat berhenti sepenuhnya—walaupun itu lebih baik. Tapi gue minta lo untuk take a step back, rileks dan tarik napas. Diri lo butuh istirahat dari dopamin sosial media, sadari kalau sosmed lebih sering ngendaliin emosi daripada diri lo sendiri. Ambil kontrol diri lo.

Jangan salahin diri lo dari scroll video, it’s ok. Anggap itu hiburan/entertaiment, kaya lo nonton TV pas kecil setelah pulang sekolah. It’s okay. Tapi lo cukup tahu batasnya aja, cuma lo yang tahu ‘berapa lama’ produktifitas dan berapa lama hiburan, setiap orang beda-beda.

Sekian dari gue, terima kasih udah baca. Subscribe email lo biar dapat update langsung ke email. Sampai jumpa.

Add a comment

Subscribe now!